Sejarah Pendidikan Dokter Spesialis THT-KL UNAIR

Pendidikan Spesialisasi Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher (THT-KL) di Indonesia telah dimulai pada masa penjajahan Belanda.  Pendidiknya antara lain ialah dr. de Haas yang mendidik Prof. Dr. Hendarmin dan Dr. Engelen. Pelaksanaannya bertempat di Centrale Bungerlijke Ziekeninrichting (CBZ) yang sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Mereka kemudian menjadi guru bagi Prof. Dr. Moh. Zaman, Prof. Dr. Oepomo dan Dr. Andu sedamgkan Dr. R. A. J Niels sebagai pendidik bagi Dr. Chasan Busoirie. Sistem pendidikan waktu itu adalah sistem magang dan tidak ada kurikulum yang tertulis. Dengan demikian pendidikan spesialisasi sifatnya perorangan bukan institusi ataupun perhimpunan keahlian.

 

Pendidikan sewaktu zaman Jepang tidak jelas tetapi banyak dokter THT bangsa Jepang yang bekerja di Rumah Sakit di Indonesia. Pada awal kemerdekaan, pendidikan dengan sistem magang masih berlanjut hanya saja ijazah dikeluarkan oleh Institusi Pendidikan Bagian THT Fakultas Kedokteran tertentu. Setelah terbentuknya Ikatan Dokter Indonesia tahun 1950 ijazah keahlian yang dikeluarkan oleh Kepala Bagian THT dilaporkan ke Majelis Dokter Ahli (MDA) yaitu suatu badan dibawah Pengurus Besar IDI.

 

Setelah berdirinya Perhimpunan Ahli THT (Perhati) pada tahun 1966 di Surabaya, pada kongresnya yang pertama di Bandung tanggal 18 April 1969 dikeluarkan suatu keputusan tentang pendidikan keahlian THT yang dikenal dengan Keputusan No. 2 Perhati tentang “Syarat-syarat minimal untuk memperoleh ijazah keahlian ilmu penyakit THT di Indonesia”.

Tanggal 12 Juli 1975 pada Kongres Perhati ke IV di Denpasar, Bali, diputuskan untuk meninjau kembali keputusan No.2 Perhati di Bandung tentang syarat-syarat minimal pendidikan keahlian THT itu untuk selanjutnya dibentuk Panitia Kurikulum Pendidikan Keahlian Penyakit THT-Perhati dengan anggota-anggotanya terdiri dari wakil-wakil Pusat Pendidikan Keahlian Penyakit THT. Tugasnya adalah menyusun kurikulum pendidikan keahlian Penyakit THT di Indonesia yang komprehensif dan jelas serta lebih disesuaikan dengan perkembangan Ilmu Penyakit THT serta kebutuhan masyarakat. Batas waktu yang diberikan kepada panitia tersebut adalah sampai dengan Kongres ke V Perhati Tahun 1977  di Semarang. Panitia tersebut di atas diketuai oleh Dr. Sigit Koesma dan sekretaris Dr. Soewito serta anggotanya terdiri dari Prof. Dr. Nizar. S. T., Prof. Dr. Oepomo, Prof. Dr. Moh. Zaman, Dr. Chasan Boesoirie, Dr. Pangeran Siregar, Dr. Hudijono, Dr. Herri Soepardjo, Dr. Adenin Adenan, Dr. Erwin Tobing, Dr. Soelarjo dan Dr. Hadi Koesnan.

 

Mereka telah menyelesaikan tugasnya dan menyerahkan buku kurikulum pendidikan ahli penyakit THT di Kongres Nasional Perhati Ke V di Semarang. Dalam kurikulum tersebut tercantum:

  1. Dasar dan tujuan pendidikan
  2. Objek pendidikan (“Core curicculum”) yang terdiri dari institutional objectives dan Departmental objectives Curriculum packages (Otologi, Rinologi, Faringologi, Laringologi, Bronko-Esofagologi, Onkologi serta Audiologi Vestibuler). Sedangkan untuk General Instructional Objectives dan Spesific Instructional Objectives (G. I. O dan S. I. O) diserahkan untuk dibuat di pusat-pusat pendidikan masing-masing.
  3. Metodologi pendidikan.

Dalam Metodologi Pendidikan ini ditetapkan:

  1. Institusi mana yang berwenang untuk menjadi pusat pendidikan.
  2. Kriteria apa yang harus dipenuhi sebagai pusat pendidikan (jumlah sub bagian, ketenagaan, jenis rumah sakit, alat-alat yang harus tersedia, perpustakaan dan lain-lain).
  3. Strategi mengajar dan belajar
  4. Syarat-syarat penerimaan calon dan
  5. Sistem evaluasi

 

Kurikulum pendidikan keahlian THT yang dibuat oleh Perhati inilah yang akhirnya dengan sedikit tambahan disahkan oleh CMS ( Consorsium of Medical Sciences ) pada waktu itu untuk menjadi katalog Program Pendidikan Spesialis THT 1978. Dengan demikian pendidikan keahlian yang de facto diselenggarakan oleh perhimpunan (Perhati) akhirnya diselenggarakan oleh Institusi Pendidikan Pemerintah yaitu Fakultas Kedokteran Negeri.

 

Tepat sepuluh tahun kemudian pada Kongres Nasional Perhati Ke IX di Bandung Tahun 1989 diselenggarakan loka karya “Pengembangan Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis THT Dalam Menyongsong Tahun 2000”. Tujuan loka karya tersebut adalah untuk merevisi katalog pendidikan keahlian THT 1978 yang disesuaikan dengan perkembangan IPTEKDOK dunia. Dalam loka karya tersebut berbicara al. Dir. Jen Pelayanan Medik Dr. Brotowasisto (Depkes), Prof. Dr. Ma’arifin Husein (CHS) dan Prof. Dr. Hanifa Wiknjosastro (MDS-IDI). Hasil loka karya tersebut dipergunakan sebagai asupan untuk panitia pengembangan katalog Pendidikan Spesialis THT 1978.

 

Dalam pengurusan PERHATI Periode 1989-1992 panitia pengembangan katalog Pendidikan Spesialis THT 1978 dibentuk dengan ketua, Prof. Dr. Soewito, sekretaris, dr. Soepomo serta anggota yang terdiri dari wakil tiap pusat pendidikan spesialisasi THT seperti UI yang diwakili oleh Prof. Dr. Purnaman S. Pandi, Dr. Indro Sutirto, Dr. Nusyirwan Rifki dan Prof. Dr. Nurbaiti Iskandar, UNPAD oleh Dr. Dindy Samiadi dan Prof. Dr. Soerimah, UGM oleh Prof. Dr. Soewito, Prof. Dr. Soenarto dan Dr. Soepomo Soekardono, UNDIP oleh Prof. Dr. Herry Soepardjo, Prof. Dr. Bambang S. S., UNAIR oleh Dr. Sardjono Sudjak dan UNHAS oleh Prof. Dr. Sedjawidada.

 

Dalam rapatnya yang pertama di Jakarta pada tahun 1990 diputuskan untuk masing-masing Pusat Pendidikan membuat konsep kurikulum baru termasuk satuan angka pendidikannya (satuan kredit semesternya). Secara acak dibagi setiap pusat dua disiplin keilmuannya yaitu Otologi, Rinologi, Neurotologi (Audiologi dan Vestibuler), Laringo-faringologi, Bronko-esofagologi dan Onkologi Bedah Kepala Leher. Setelah selesai diadakan rapat lagi untuk dibahas lebih lanjut. Oleh karena hampir 1 tahun tidak ada satupun yang mengirimkan naskah kurikulum tersebut, maka UGM yang dikoordinir oleh Prof. Dr. Soewito memberanikan diri untuk membuat konsep kurikulum baru berikut satuan kredit semester semua disiplin keilmuan. Selanjutnya mengirimkan ke semua Pusat Pendidikan untuk dikoreksi dan beberapa kali dibahas pada setiap kesempatan Raker Perhati. Ternyata dengan teknik umpan balik hasilnya cukup memuaskan karena hampir semua Pusat Pendidikan mengirimkan kembali hasil perbaikan bahkan ada yang membuat kurikulum ke seluruhan beserta pembobotan satuan kredit semesternya.

 

Rapat Paripurna Panitia Pengembangan Katalog 1978 pada Kongres PERHATI ke 11 di Yogyakarta yang berlangsung selama kepengurusan Perhati 1992-1995 yang diketuai Dr. Iwin Sumarman menerima dan mengesahkan dengan catatan diadakan perbaikan redaksi dan mengedit buku kurikulum tersebut. Berdasarkan Surat Keputusan PP Perhati No. 03/SKEP/PP/PHT/V/1996 tertanggal 6 Mei 1996 tertanda Dr. Masrin Munir SpTHT ditunjuk Dr. Averdi Roezin SpTHT, Dr. Efiaty Soepardi SpTHT dan Dr. Fachri Hadjat SpTHT untuk melaksanakan perbaikan dan penyempurnaan kurikulum tersebut. Buku kurikulum ini diajukan kembali pada rapat kerja PERHATI tgl. 27 Oktober 1996 pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perhati di Batu Malang. Dalam Raker ini diusulkan untuk membuat Kurikulum Dokter Spesialis I dan Spesialis II Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher kepada Tim Penyusun.

 

Kemudian pada Rapat Kerja Perhati tgl. 25 Juli 1997 di Surakarta dengan suara bulat dinyatakan oleh Ketua Umum PERHATI Dr. Masrin Munir bahwa buku kurikulum Dokter Spesialis I Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher yang telah disempurnakan diterima dan ditetapkan pula Tim Penyusun untuk segera merampungkan Buku Kurikulum Spesialis II THT dalam waktu yang tak terlalu lama.

 

Kolegium THT-KL Indonesia dalam Bahasa Inggris adalah The College Of Indo-ORL & HNS disahkan pada KONAS PERHATI-KL ke-13 di Semarang 27 Oktober 1999. Kolegium THT-KL Indonesia merupakan satu-satunya badan yang bertugas menyusun rencana, melaksanakan, mengembangkan, serta mengawasi upaya-upaya dan langkah-langkah organisasi Program Pendidikan Dokter Spesialis THT, THT-KL dan THT-KL(K) di Indonesia. Kolegium THT-KL Indonesia merupakan suatu badan otonom diluar PERHATI-KL yang berinduk pada Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia, yang memiliki hubungan koordinatif dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok Indonesia. Kolegium THT-KL Indonesia adalah suatu badan otonom yang bersifat bebas, tidak mencari keuntungan (nirlaba), dijiwai oleh Sumpah Dokter Indonesia serta memenuhi Kode Etik Kedokteran Indonesia Kolegium THT-KL Indonesia berkedudukan di Ibu Kota atau Kota lain sesuai Keputusan Rapat Pleno Kolegium THT-KL Indonesia. Saat ini terdapat 12 sentra pendidikan dokter spesialis di seluruh Indonesia, yakni Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Gajah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Sebelas Maret, Universitas Hasanudin, Universitas Andalas, Universitas Sumatra Utara, Universitas Sriwijaya, Universitas Udayana.

We usually reply with 24 hours except for weekends. All emails are kept confidential and we do not spam in any ways.

Thank you for contacting us :)

Enter a Name

Enter a valid Email

Message cannot be empty